Persatuan Hindia
Beberapa tahun lalu, amat sering terdengar semboyan “Persatuan Indonesia”. Oleh seorang jurnalis senior, Andreas Harsono, semboyan itu melandasi penamaan baru untuk Indonesia. AH menyebut Indonesia sebagai Indopahit.
Bagi penggiat Yayasan Pantau itu, Indonesia tidak lebih kelanjutan dari Majapahit. Makanya, ia mengerat kata Indonesia dan Majapahit menjadi Indopahit.
Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini saya teringat lagi frasa yang kerap berdengung di awal abad 20. Frasa itu didengungkan pertama kali oleh Johannes Benedictus Van Heutsz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menggantikan Willem Rooseboom pada 1 Oktober 1904 dan digantikan Alexander Willem Frederick Idenburg pada 18 Desember 1909.
Van Heutsz selama masa pemerintahannya terus menerus mendengungkan frasa itu. Demi persatuan Hindia, tidak segan ia mengirim ekspedisi militer ke kerajaan yang masih merdeka di Nusantara. Hasilnya antara lain Perang Puputan di Bali
Kebijakan mantan gubernur militer Belanda di Aceh itu agak mirip dengan kebijakan politik Gadjah Mada. Beberapa ratus tahun sebelum Van Heutz memerintah, Gadjah Mada juga bertekad mempersatukan Nusantara dan beberapa daerah diluarnya dibawah kekaisaran Majapahit. Hasilnya antara lain Perang Bubat di daerah yang kini terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Kebijakan Van Heutsz juga aga mirip dengan Suharto. Presiden Indonesia ke empat itu tidak segan mengirimkan ekspedisi militer ke daerah yang dianggap membangkang. Hasilnya antara lain DOM di Aceh dan Papua.
Rupanya, benarlah pernyataan para cerdik cendikia : Manusia dikutuk mengulangi jika melupakan sejarah.
Bagi penggiat Yayasan Pantau itu, Indonesia tidak lebih kelanjutan dari Majapahit. Makanya, ia mengerat kata Indonesia dan Majapahit menjadi Indopahit.
Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini saya teringat lagi frasa yang kerap berdengung di awal abad 20. Frasa itu didengungkan pertama kali oleh Johannes Benedictus Van Heutsz, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menggantikan Willem Rooseboom pada 1 Oktober 1904 dan digantikan Alexander Willem Frederick Idenburg pada 18 Desember 1909.
Van Heutsz selama masa pemerintahannya terus menerus mendengungkan frasa itu. Demi persatuan Hindia, tidak segan ia mengirim ekspedisi militer ke kerajaan yang masih merdeka di Nusantara. Hasilnya antara lain Perang Puputan di Bali
Kebijakan mantan gubernur militer Belanda di Aceh itu agak mirip dengan kebijakan politik Gadjah Mada. Beberapa ratus tahun sebelum Van Heutz memerintah, Gadjah Mada juga bertekad mempersatukan Nusantara dan beberapa daerah diluarnya dibawah kekaisaran Majapahit. Hasilnya antara lain Perang Bubat di daerah yang kini terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Kebijakan Van Heutsz juga aga mirip dengan Suharto. Presiden Indonesia ke empat itu tidak segan mengirimkan ekspedisi militer ke daerah yang dianggap membangkang. Hasilnya antara lain DOM di Aceh dan Papua.
Rupanya, benarlah pernyataan para cerdik cendikia : Manusia dikutuk mengulangi jika melupakan sejarah.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home