Istigosah
Istigosah
Beberapa hari menjelang ujian nasional, sebagian guru mengajak pelajar sejenak menjauh dari buku. Mereka diundang duduk sejenak beristigosah. Beberapa jam sebelum ujian nasional, sebagian guru mencuri soal.
Itu kontradiksi baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Sejak ujian nasional digelar, beragam cara dilakukan sekolah untuk sukses melampaui ujian itu. Salah satunya dengan menyelenggarakan istigosah.
Istigosah diselenggarakan di lapangan-lapangan sekolah dengan mengundang ulama ternama. Istigosah diharapkan menghadirkan ketenangan atas cengkeraman kecemasan tidak mampu mendapat nilai minimal untuk lulus ujian nasional.
Biasanya, istigosah diselenggarakan beberapa hari menjelang ujian. Jauh hari sebelum ujian, para guru dan pelajar lebih sibuk berlatih mengerjakan tumpukan contoh soal. Tahun lalu di Surabaya, seorang pelajar SMP meraih nilai 10 untuk semua mata ujian dari hasil seperti itu. Memang, ia harus membayarnya dengan latihan setiap hari sampai pukul 2 dini hari.
Pelajar itu tidak sendiri, ribuan pelajar lain di Surabaya didorong mengambil pilihan sama. Latihan mengerjakan soal dianggap cara terbaik membantu pelajar mendapat nilai minimal untuk lulus. Nilai yang terus dinaikkan dari tahun ke tahun.
Tidak sedikit pelajar mengaku bisa menjawab soal-soal itu. Tetapi, mereka juga mengaku tidak mengerti apa sebenarnya konsep materi pada soal itu. Wajar mereka bingung bila bentuk soal berubah.
Memang tidak mudah menyampaikan materi pada sekolah di Indonesia. Banyak pakar pendidikan menyatakan materi pelajaran di Indonesia terlalu banyak. Buktinya, banyak guru mengeluh kekurangan jam mengajar untuk menuntaskan semua materi.
Lebih buruk lagi, banyak sekali sekolah tidak memiliki fasilitas pendukung belajar yang baik. Perpustakaan berarti lemari dengan isi beberapa eksemplar buku, laboratorium berarti ruang dengan beberapa benjana kaca.
Kondisi itu dilengkapi dengan masih banyak guru belum berkualifikasi baik sebagai pengajar. Mereka berhenti mengaktualisasi diri selama bertahun-tahun. Mereka menggunakan sumber dan materi sama selama bertahun-tahun.
Sayangnya, penyelenggara ujian nasional tidak mau tahu itu. Pelajar di pedalaman dengan sekolah miskin fasilitas dan guru tidak layak harus mendapat nilai minimal untuk lulus. Pelajar di pusat kota dengan sekolah berfasilitas lengkap juga dituntut hal sama.
Tidak heran jika para pelajar dan guru cemas. Saat waktu semakin sempit, mereka membutuhkan penenang. Adakah orang tidak tenang setelah istigosah selama beberapa jam?
Beberapa hari menjelang ujian nasional, sebagian guru mengajak pelajar sejenak menjauh dari buku. Mereka diundang duduk sejenak beristigosah. Beberapa jam sebelum ujian nasional, sebagian guru mencuri soal.
Itu kontradiksi baru dalam dunia pendidikan Indonesia. Sejak ujian nasional digelar, beragam cara dilakukan sekolah untuk sukses melampaui ujian itu. Salah satunya dengan menyelenggarakan istigosah.
Istigosah diselenggarakan di lapangan-lapangan sekolah dengan mengundang ulama ternama. Istigosah diharapkan menghadirkan ketenangan atas cengkeraman kecemasan tidak mampu mendapat nilai minimal untuk lulus ujian nasional.
Biasanya, istigosah diselenggarakan beberapa hari menjelang ujian. Jauh hari sebelum ujian, para guru dan pelajar lebih sibuk berlatih mengerjakan tumpukan contoh soal. Tahun lalu di Surabaya, seorang pelajar SMP meraih nilai 10 untuk semua mata ujian dari hasil seperti itu. Memang, ia harus membayarnya dengan latihan setiap hari sampai pukul 2 dini hari.
Pelajar itu tidak sendiri, ribuan pelajar lain di Surabaya didorong mengambil pilihan sama. Latihan mengerjakan soal dianggap cara terbaik membantu pelajar mendapat nilai minimal untuk lulus. Nilai yang terus dinaikkan dari tahun ke tahun.
Tidak sedikit pelajar mengaku bisa menjawab soal-soal itu. Tetapi, mereka juga mengaku tidak mengerti apa sebenarnya konsep materi pada soal itu. Wajar mereka bingung bila bentuk soal berubah.
Memang tidak mudah menyampaikan materi pada sekolah di Indonesia. Banyak pakar pendidikan menyatakan materi pelajaran di Indonesia terlalu banyak. Buktinya, banyak guru mengeluh kekurangan jam mengajar untuk menuntaskan semua materi.
Lebih buruk lagi, banyak sekali sekolah tidak memiliki fasilitas pendukung belajar yang baik. Perpustakaan berarti lemari dengan isi beberapa eksemplar buku, laboratorium berarti ruang dengan beberapa benjana kaca.
Kondisi itu dilengkapi dengan masih banyak guru belum berkualifikasi baik sebagai pengajar. Mereka berhenti mengaktualisasi diri selama bertahun-tahun. Mereka menggunakan sumber dan materi sama selama bertahun-tahun.
Sayangnya, penyelenggara ujian nasional tidak mau tahu itu. Pelajar di pedalaman dengan sekolah miskin fasilitas dan guru tidak layak harus mendapat nilai minimal untuk lulus. Pelajar di pusat kota dengan sekolah berfasilitas lengkap juga dituntut hal sama.
Tidak heran jika para pelajar dan guru cemas. Saat waktu semakin sempit, mereka membutuhkan penenang. Adakah orang tidak tenang setelah istigosah selama beberapa jam?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home