Keunggulan komparatif
Waktu merkantilisme terlalu merajai perekonomian dunia hingga abad ke 18, para teoritikus ekonomi menyarankan sistem perdagangan lain. Berseru-seru mereka tentang keunggulan komparatif.
Suatu negara dinyatakan akan lebih untung jika hanya memproduksi sebagian kebutuhannya. Sementara kebutuhan lain lebih baik dibeli saja. Lebih hemat waktu dan uang. Begitu kata penganjurnya.
Mungkin itu pertimbangan Pertamina saat membatalkan pembangunan kilang minyak baru di Sumatera. Direksi BUMN it menyatakan lebih murah membeli dari Malaysia dan Singapura.
Mungkin itu pula dibenak para pembuat kebijakan pertanian saat memurahkan bea masuk impor kedelai dan jagung. Walhasil, produksi dalam negeri kalah saing. Sudahlah berbiji kecil, kotor, mahal lagi. Lain dengan kedelai dan jagung impor yang berbiji besar, berkilai, murah lagi karena bea masuk rendah.
Apa lacur, teori tidak selamanya berhasil dan sesuai fakta. Buktinya, kelimpungan pembuat tempe saat harga kedelai impor meroket. Sementara kedelai dalam negeri sudah tidak diproduksi lagi gara-gara sudah lama kalah saing dengan kedelai impor.
Apa lacur, minyak di sumatera setengah mati susah didapat. Untuk tiga liter bensin, orang harus antri di SPBU sampai dua jam. Mau beli di kios kecil, tebuslah dengan Rp 20.000 per liter atau US$ 2,25 per liter. Di eropa saja tidak sampai semahal itu.
Di mana keunggulan komparatif itu?
Suatu negara dinyatakan akan lebih untung jika hanya memproduksi sebagian kebutuhannya. Sementara kebutuhan lain lebih baik dibeli saja. Lebih hemat waktu dan uang. Begitu kata penganjurnya.
Mungkin itu pertimbangan Pertamina saat membatalkan pembangunan kilang minyak baru di Sumatera. Direksi BUMN it menyatakan lebih murah membeli dari Malaysia dan Singapura.
Mungkin itu pula dibenak para pembuat kebijakan pertanian saat memurahkan bea masuk impor kedelai dan jagung. Walhasil, produksi dalam negeri kalah saing. Sudahlah berbiji kecil, kotor, mahal lagi. Lain dengan kedelai dan jagung impor yang berbiji besar, berkilai, murah lagi karena bea masuk rendah.
Apa lacur, teori tidak selamanya berhasil dan sesuai fakta. Buktinya, kelimpungan pembuat tempe saat harga kedelai impor meroket. Sementara kedelai dalam negeri sudah tidak diproduksi lagi gara-gara sudah lama kalah saing dengan kedelai impor.
Apa lacur, minyak di sumatera setengah mati susah didapat. Untuk tiga liter bensin, orang harus antri di SPBU sampai dua jam. Mau beli di kios kecil, tebuslah dengan Rp 20.000 per liter atau US$ 2,25 per liter. Di eropa saja tidak sampai semahal itu.
Di mana keunggulan komparatif itu?

0 Comments:
Post a Comment
<< Home