Seni?
Beberapa hari lalu saya hadir di pesta ulang tahun ke empat anak seorang rekan. Saat pesta akan dimulai, hampir seluruh undangan menangis melihat badut. Sang Badut terlihat meringis karena anak-anak itu. Badut hadir untuk memancing tawa, bukan tangis.
Tapi, bukan badut namanya kalau tidak bisa membuat anak kecil tertawa. Badut itu berhasil melakukan tugasnya
Saat badut melakukan tugasnya, gantian aku meringis. Aku heran, bingung, dengan anak-anak kecil yang tidak tahu lagu Bintang Kecil, Pelangi, Balonku ada lima, de el el. Mereka lebih tahu lagu dangdut yang judul dan lagunya baru sekali itu aku dengar (sebagian lagi!)
Mungkin bagi sebagian orang tidak ada yang salah dengan itu. Aku pribadi merasa itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, sebagian diriku merasa aneh sekali kenapa anak-anak jadi seperti.
Mengapa mereka tidak diberi kesempatan menikmati porsi yang pantas? Apakah tidak ada lagi yang bisa membuat porsi pantas untuk mereka.
Pesta itu membuatku teringat pada ucapan beberapa teman, anak yang belajar seni kerap menjadi representasi pelampiasan nafsu orangtua. Para orangtua malu jika anak tidak bisa melukis dengan baik, menggesek biola dengan indah.
Tapi para orangtua tidak malu jika anak tidak imajinatif dan kreatif. Padahal, itu tujuan belajar seni
Tapi, bukan badut namanya kalau tidak bisa membuat anak kecil tertawa. Badut itu berhasil melakukan tugasnya
Saat badut melakukan tugasnya, gantian aku meringis. Aku heran, bingung, dengan anak-anak kecil yang tidak tahu lagu Bintang Kecil, Pelangi, Balonku ada lima, de el el. Mereka lebih tahu lagu dangdut yang judul dan lagunya baru sekali itu aku dengar (sebagian lagi!)
Mungkin bagi sebagian orang tidak ada yang salah dengan itu. Aku pribadi merasa itu tidak sepenuhnya salah. Hanya saja, sebagian diriku merasa aneh sekali kenapa anak-anak jadi seperti.
Mengapa mereka tidak diberi kesempatan menikmati porsi yang pantas? Apakah tidak ada lagi yang bisa membuat porsi pantas untuk mereka.
Pesta itu membuatku teringat pada ucapan beberapa teman, anak yang belajar seni kerap menjadi representasi pelampiasan nafsu orangtua. Para orangtua malu jika anak tidak bisa melukis dengan baik, menggesek biola dengan indah.
Tapi para orangtua tidak malu jika anak tidak imajinatif dan kreatif. Padahal, itu tujuan belajar seni
