Joker
Sabtu (19/7) akhirnya saya bisa menyaksikan sekuel Batman yang diperankan Chirstian Bale (wajahnya terlihat lebih tirus dibandingkan di Batman sebelumnnya). Untuk sisi aksi dan efek spesial, tidak ada yang terlalu istimewa dari film sebelumnnya. Christoper Nolan memang tidak menekankan itu untuk sekuel berjudul The Dark Knight tersebut.
Nolan sadar film aksi bukan sekedar ledakan dan asap semata. Film aksi butuh plot yang enak, dialog berbobot. Dialog itu tidak hanya diucapkan Joker, Wayne/Batman, maupun Alfred si pelayan atau lebih tepat pengasuh setia Batman.
Dari semua tokoh itu, saya lebih suka pada Joker. Bukan apa-apa, sebagian dialog Joker menyinggung-nyinggung soal anarki. Para pengulas juga sepakat Joker anarkis sejati yang mengidam-idamkan kekacauan. Masalahnya, Joker sekaligus vandalis.
Kebetulan di salah satu forum surat elektronik para jurnalis, ada disinggung soal makna anarkis dan vandalis itu. Sebagian orang menganggap vandalis sebagai anarkis. Tidak kurang jurnalis senior, para pejabat kepolisian, dan banyak pihak lain menyatakan tindakan perusakan adalah anarkis (sering diucapkan anarkhis dengan KH yang terlalu ditekan).
Jadi, kenapa Joker disebut anarkis? Saya melihat pelabelan itu mengikuti buat pikiran Comte. Sosiolog Perancis itu menganggap anarkis adalah vandalis. Comte tidak sepenuhnya disalahkan. Ia hidup di masa revolusi perancis yang melahirkan sejumlah kekacauan setelah rezim Louis tumbang. Sementara sistem pemerintahan baru belum sepenuhnya bekerja baik.
Kebetulan dia mendengar hal tanpa sistem kenegaraan, keteraturan adalah anarki. Comte melihat di Perancis tidak ada sistem kenegaraan yang kuat sehingga muncul serangkaian kerusuhan
Padahal, Prodhon yang juga orang Perancis sama sekali meletakkan anarki jauh sekali dari vandal. Proudhon setengah mati pecinta damai. Ia bahkan menolak pemogokan buruh karena prinsip cinta damai itu.
Jadi, Joker itu Vandalis atau anarkis? Saya lebih sepakat menyebut dia vandalis.
Apa sih vandalis dan anarkis? Nanti saja dibahasnya.
Nolan sadar film aksi bukan sekedar ledakan dan asap semata. Film aksi butuh plot yang enak, dialog berbobot. Dialog itu tidak hanya diucapkan Joker, Wayne/Batman, maupun Alfred si pelayan atau lebih tepat pengasuh setia Batman.
Dari semua tokoh itu, saya lebih suka pada Joker. Bukan apa-apa, sebagian dialog Joker menyinggung-nyinggung soal anarki. Para pengulas juga sepakat Joker anarkis sejati yang mengidam-idamkan kekacauan. Masalahnya, Joker sekaligus vandalis.
Kebetulan di salah satu forum surat elektronik para jurnalis, ada disinggung soal makna anarkis dan vandalis itu. Sebagian orang menganggap vandalis sebagai anarkis. Tidak kurang jurnalis senior, para pejabat kepolisian, dan banyak pihak lain menyatakan tindakan perusakan adalah anarkis (sering diucapkan anarkhis dengan KH yang terlalu ditekan).
Jadi, kenapa Joker disebut anarkis? Saya melihat pelabelan itu mengikuti buat pikiran Comte. Sosiolog Perancis itu menganggap anarkis adalah vandalis. Comte tidak sepenuhnya disalahkan. Ia hidup di masa revolusi perancis yang melahirkan sejumlah kekacauan setelah rezim Louis tumbang. Sementara sistem pemerintahan baru belum sepenuhnya bekerja baik.
Kebetulan dia mendengar hal tanpa sistem kenegaraan, keteraturan adalah anarki. Comte melihat di Perancis tidak ada sistem kenegaraan yang kuat sehingga muncul serangkaian kerusuhan
Padahal, Prodhon yang juga orang Perancis sama sekali meletakkan anarki jauh sekali dari vandal. Proudhon setengah mati pecinta damai. Ia bahkan menolak pemogokan buruh karena prinsip cinta damai itu.
Jadi, Joker itu Vandalis atau anarkis? Saya lebih sepakat menyebut dia vandalis.
Apa sih vandalis dan anarkis? Nanti saja dibahasnya.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home