Kejuruan atau Umum?

Hari-hari belakangan ini para pelajar dan wali mereka tengah disibukkan dengan persiapan ujian nasional. Ritual tahunan itu harus diselesaikan dengan baik. Setelah ujian nasional berlalu, mereka akan dihadang dengan persoalan baru, pemilihan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jawa Timur Rasiyo menuturkan, pemilihan sekolah lanjutan memang tidak mudah. Bisa jadi pilihan itu akan ikut menentukan masa depan pelajar. “Sayangnya, beberapa pelajar kurang mempertimbangkan dengan matang sebelum masuk sekolah lanjutan tertentu,” ujarnya.
Pemilihan sekolah bukan hanya soal ikut kawan atau karena sekolah tertentu lebih bagus. Lebih penting lagi memandang potensi dan bakat pelajar terlebih dahulu. Padahal, tidak semua orang cocok masuk SMA atau SMK.
Mereka dengan kecenderungan akademis kuat disarankan masuk SMA. Selama SMA, potensi semakin ditajamkan sehingga jelas akan program studi ada pada perguruan tinggi. “SMA belum memberikan kompetensi jelas. Pelajar perlu menajamkannya dengan masuk perguruan tinggi,” ujarnya.
Sementara, mereka yang ingin segera kerja disarankan memilih SMK saja. Di SMK, mereka akan mendapatkan keahlian untuk segera terjun ke dunia kerja. Pelajar yang kurang berkembang secara akademik juga sebaiknya masuk SMK.
Harus dipertimbangkan juga kemungkinan kebutuhan dana. Pemilihan SMA hampir pasti harus diikuti dengan penyediaan dana untuk masuk perguruan tinggi. Kemungkinan itu akan kecil jika masuk SMK. “Tetapi, bukan berarti lulusan SMK tidak bisa masuk perguruan tinggi,” tutur Rasiyo.
Pertimbangan selanjutnya lokasi sekolah. Diakui saat ini jumlah SMA masih lebih banyak daripada jumlah SMK. Hampir setiap kecamatan atau setidaknya kawasan yang terdiri dari beberapa kecamatan memiliki SMA bagus. “Jarak rumah ke sekolah akan mempengaruhi biaya transportasi. Komponen biaya itu kerap menjadi kendala pelajar meneruskan sekolah,” tuturnya.
Koordinator Pelatihan pada Pusat Pengembangan Keberbakatan Universitas Surabaya Evy Tjahjono menuturkan, peran orangtua amat penting dalam pemilihan sekolah. Remaja biasanya memutuskan sesuatu karena pengaruh orangtua dan atau kawan-kawannya. “Sebagian besar remaja sekarang belum bisa membuat keputusan. Mereka cenderung ikut arus di sekitar mereka,” ujarnya.
Hal itu bisa jadi membuat pelajar membuat keputusan salah. Pelajar bisa masuk sekolah yang tidak sesuai dengan potensi, minat, dan kepribadiannya. “Perlu ditinjau kemungkinan ikut tes potensi dan kepribadian sebelum memilih sekolah,” tuturnya.
Memang, remaja yang berusia di bawah 15 tahun belum bisa diketahui secara pasti potensi dan kenderungan kepribadiannya. Kedua hal itu masih terus berkembang selama tahap remaja awal. Namun, sebagai bantuan pengambilan keputusan bagi remaja.
Masalahnya, remaja cenderung mempunyai pandangan negatif terhadap SMK. Pelajar SMP Negeri 22 Surabaya, Rika menyatakan tidak ingin pelajarannya terhenti karena masuk SMK. “Setelah SMK, saya akan susah masuk perguruan tinggi. Jadi pelajar SMK kurang keren dibandingkan dengan pelajar SMA,” ungkapnya.
SMK juga dianggap sebagai penampung pelajar yang gagal masuk SMA. Dengan demikian, kualitas pelajar SMK dianggapnya lebih buruk dari kualitas pelajar SMA. “Saya juga belum mau cepat-cepat kerja. Mau cari ilmu banyak-banyak dulu,” tuturnya.
